Social Icons

about me

Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2011

BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Christian Gonzales




Full name : Christian Genard Alfaro Gonzales
Islam Name : Mustafa Habibie
Date of birth : August 30, 1976 (1976-08-30)
Nick : El Loco (Si Gila)
Place of birth : Montevideo, Uruguay
Height : 1.77 m (5 ft 9 1?2 in)
Religion : Islam (9 Oktober 2003)
Nationality : Indonesia (1 November 2010)
Parents :
Father is Military, Eduardo Alfaro
Mother is a nurse in Montevideo Hospital, Meriam Gonzales.
Wife : Eva Siregar
Children :
Amanda Gonzales
Michael Gonzales
Fernando`Alvaro
Vanesa Siregar Gonzales
Playing position : Striker
Current club : Persib Bandung
Number : 99
Gonzales is notorious for his volatile temper,ever since playing in Indonesia in 2003, he has been punished by PSSI five times.
Christian Gonzalez National team :
1994–1996 Uruguay U-20
2010– Indonesia
Christian Gonzalez  junior clubs :
1990-1995 Defensor Sporting
Christian Gonzalez Senior Club :
1995-1997 Sud America
1997-1999 Huracan Ctes (pinjam)
1999-2000 Sud America
2000-2003 Deportivo Maldonado
2003-2005 PSM Makassar
2005-2008 Persik Kediri
2008-2009 ?Persib Bandung (pinjam)
2009-2010 Persib Bandung
2010- Persib Bandung


Cristian adalah salah satu penyerang yang paling mematikan sepanjang sejarah kompetisi sepak bola Indonesia. Kemampuannya dalam menendang, mencetak gol, penempatan posisi, visi permainan, dan sundulan adalah andalannya. Disamping kemampuannya, ia juga terkenal memiliki fisik yang prima.
Pada saat bermain di Uruguay, ia ditugaskan sebagai gelandang serang. Produktivitasnya kurang baik sampai akhirnya ia hijrah ke Indonesia untuk bergabung dengan PSM Makassar dengan status bebas transfer, dan diplot sebagaipenyerang. Dari sinilah ia membuktikan kualitasnya sebagai seorang penyerang handal.
Pada musim 2006, ia adalah pemain termahal di Liga Indonesia menurut data Badan Liga Indonesia dengan bayaran Rp1,2 milyar[1]
Pada tanggal 21 November 2010 Cristian Gonzales memulai debut sebagai anggota timnas sepak bola indonesia melawan Timor Leste dan langsung mencetak dua gol di debut pertamanya. Selanjutnya, ia masuk sebagai anggota inti Timnas Indonesia pada kejuaraan Piala Suzuki AFF 2010.
Setelah menikah, ia memiliki paspor Indonesia, istrinya adalah wanita Indonesia bernama Eva Nurida Siregar. Dari pernikahannya, ia memperoleh dua orang anak (Fernando dan Florencia). Ia juga telah mempunyai dua anak hasil pernikahan sebelumnya (Amanda dan Michael). Cristian memeluk agama Islam pada tahun 2003 dan mengambil namaMustafa Habibi.

KONTROVERSI
Cristian GonzĂ¡les dikenal dengan sikapnya yang temparamental. Sejak pertama kali merumput di Indonesia tahun 2003, dia sudah mendapat hukuman dari Komisi Disiplin PSSI sebanyak lima kali karena perilaku kekerasan terhadap lawan dan pelecehan terhadap wasit, akan tetapi hukumannya hampir tidak pernah dilaksanakan secara efektif karena ketua umum PSSI, Nurdin Halid, yang terkesan melindunginya. Bahkan untuk kasusnya yang ke-5, Badan Liga Indonesia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa ketika hukuman larangan bermain yang seharusnya 12 bulan dibatalkan oleh Nurdin Halid ketika hukuman baru berjalan 3 bulan. [2][3] Hal ini dipertanyakan beberapa pihak, termasuk PSMS Medan yang menyatakan bahwa PSSI telah menghilangkan unsur pembelajaran dan Nurdin Halid sangat pilih kasih dalam memberi ampunan.[4][5]
Berikut daftar kasus Cristian GonzĂ¡les :[2][3]
  • Terlibat perkelahian dengan sesama rekan timnya di Sud America, pada tahun 2000. Ia kemudian dikeluarkan manajemen klubnya dengan status bebas transfer.
  • Terlibat perkelahian dengan sesama rekan timnya di Deportivo Maldonado, pada tahun 2002. Ia kemudian dikeluarkan manajemen klubnya dengan status bebas transfer.
  • Pada putaran kedua Liga Indonesia 2004, Cristian memukul pengurus Persita Tangerang di Stadion Benteng. Dia dihukum setahun oleh Komisi Disiplin PSSI, namun bisa merumput kembali ketika hukuman baru berjalan 6 bulan.
  • Pada putaran final Liga Indonesia 2006, Cristian menanduk penyerang PSIS SemarangEmanuel de Porras. Dia dihukum sebanyak tiga pertandingan untuk itu, namun tidak pernah dijalankannya.
  • Pada tahun 2007, dia meludahi wasit Hidayat ketika Persik Kediri dijamu Pelita Jaya. Dia dihukum sebanyak tiga pertandingan untuk itu, namun tidak pernah dijalankannya.
  • Di babak delapan besar Liga Indonesia 2007, dia berkelahi dengan bek Persija JakartaHerman Abanda. Namun lagi-lagi hukuman tiga pertandingan yang didapatkannya tidak pernah dilaksanakan.
  • Pada bulan November 2008, Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman larangan bermain 1 tahun kepadanya karena memukul bek PSMS MedanErwinsyah Hasibuan. Dia mengajukkan banding ke Komisi Banding PSSI, namun bandingnya ditolak, dan Komisi Banding ikut menguatkan sanksi yang diberikan oleh Komisi Disiplin. Akan tetapi pada Februari 2009 dia dinyatakan boleh bermain untuk Persib Bandung setelah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid memberikannya pengampunan.

BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Irfan Bachdim



Nama lengkap : Irfan Haarys Bachdim
Tanggal lahir : 11 Agustus 1988 (umur 22)
Tempat lahir : Amsterdam, Belanda
Tinggi : 1.72 m (5 ft 8 in)
Posisi bermain : Gelandang, Striker
Klub saat ini Persema Malang
Nomor : 10

Klub Junior
Tahun Klub Tampil (Gol)
1999-2001 Ajax Amsterdam
2002 SV Argon
2003-2007 FC Utrecht

Klub Senior
2008-2009 FC Utrecht 1 (0)
2009 HFC Haarlem 0 (0)
2010Persema Malang 6 (3)

Tim nasional
2010- Flag of Indonesia.svg Indonesia 3 (1)




Irfan Haarys Bachdim, dia adalah sosok yang menjadi idola baru suporter Indonesia, terutama bagi kaum Hawa. Dengan darah kebulean, dia bakal menjadi pemain muda yang berbakat dan asset bagi persepak bolaan kita.
Striker muda Indonesia yang penuh sensasional dan bikin decak kagum penonton :D. Dia adalah Irfan Bachdim. Meski baru resmi jadi WNI awal November yang lalu, Irfan Bachdim langsung bisa tancap gas bersama Timnas Indonesia pada gelaran Piala AFF 2010. Dua gol dalam dua pertandingan berhasil dia sumbangkan untuk Sang Garuda. Dia juga yang sering membuat kreator terciptanya gol bersama tandemnya Christian Gonzales (El Loco), hinggabisa melumat Malaysia 5-1 dan Laos 6-0.

Jumat, 25 Maret 2011

SPESIAL: Sepuluh Jersey Jadul Paling Top & Layak Diproduksi Lagi!!!

26 Mar 2011 12:15:00

Berikut ini adalah sepuluh jersey jadul yang dipilih...

10) Zaire 1974
"Zaire adalah negara pertama dari bagian gurun Sahara di Afrika yang mencapai Piala Dunia pada tahun 1974. Sayangnya penampilan mereka ternoda oleh jeleknya performa mereka, tetapi mereka telah memberi jersey yang bagus. Jersey hijau cerah dilengkapi dengan macan tutul di tengah. Cantik, cerah dan percaya diri."
9) USA 1994
 "Ini mungkin bukan jersey termanis sepanjang masa, tetapi anda akan menyukai tampilannya yang gagah atau membencinya karena terlihat bodoh. Bagaimanapun juga, jersey tersebut menjadi langkah besar mendobrak desain jersey saat itu. Dan jersey tersebut layak dikenang meskipun saya sendiri dan banyak orang tidak akan mau memakainya."
8) Real Madrid 1955 - 60
"Ada gaya yang simple tetapi sempurna di jersey Real Madrid yang serba putih. Tanpa sponsor dan logo pabrikan, garis-garis atau hiasan yang tidak penting lainnya. Konsep tersebut menjadi sebuah konsep yang revolusioner dan mengejutkan. Sebuah jersey yang klasik dan menjadi ikon."
7) Spanyol 1982
"Jersey ini bernilai mistik sehingga diadopsi beberapa kali oleh timnas Spayol sesudahnya. Faktanya, jersey timnas Spanyol yang baru mempunyai tiga garis kuning yang sama di lengan, model V-neck yang sama, dan garis kuning yang sama di sekitar kerah."
6) Flamengo 1981 
"Jersey yang luar biasa, dengan logo lama di pundak kanan dan garis horisontal Flamengo yang klasik dibuat dengan lebar. Saat itu adalah tahun paling sukses dalam sejarah Flamengo dengan gelar Piala Libertadores dan Piala Intercontinental."

5)Eintracht Braunschweig 1972
"Jersey yang memiliki sponsor resmi dilarang pada awal 1970-an, tetapi Braunschweig cerdik. Klub Jerman tersebut mengganti logo klub mereka dengan logo Jagermeister sehingga mereka dapat meletakkannya dengan legal. Mereka bahka berniat untuk menamakan klub mereka dengan nama 'Jagermeister Braunschweig'."
4) Belanda 1974
Michael Yokhin, Goal.com International
"Warna oranye yang brilian adalah simbol dari Total Football Belanda. Jersey dari Johan Cruyff, mungkin pesepakbola terbaik di masanya, yang memiliki garis-garis setelah dirinya memiliki kesepakatan khusus dengan Puma daripada Adidas.

Jika Belanda ingin memenangkan Piala Dunia mereka harus membangkitkan lagi jersey ini. Pertimbangan untuk 2014?"
3) Brasil 1970
"Musim panas di Meksiko tahun 1970 adalah tahun terbaik yang pernah dimiliki oleh Brasil. Jersey yang berwarna kuning keemasan pada tahun ini sangat brilian sehingga bertahan sampai 40 tahun berikutnya, dengan kata lain sampai sekarang."
2) Peru 1978
"Peru adalah salah satu timnas yang tampil mengesankan pada tahun 1970-an. Mereka berhasil meraih gelar Copa America pada tahun 1975. Pada tahun 1978 mereka masih nikmat untuk dilihat, dan jersey putih dengan petir merah sesuai dengan gaya menyerang mereka yang saat itu masih diperkuat oleh Teofilo Cubillas, Juan Munante, Hugo Sotil dan Cesar Cueto."
1) Denmark 1986
Jersey timnas Denmark tahun 1986 (versi away) menjembatani antara era sejarah dan era modern.

Dengan variasi perpaduan warna antara merah dan putih. Membuat timnas Denmark terlihat berbeda meskipun pertandingan belum dimulai.

Dibandingkan dengan desain-desain timnas lain, Denmark terlihat seperti dinamit merah. Dan semenjak itu, jersey timnas menjadi lebih ekspresif tetapi jersey Denmark adalah yang pertama dan terbaik dari jersey di era modern.

FIFA Tolak 'Peraturan Organisasi' PSSI?


26 Mar 2011 09:15:00


PO PSSI dinilai tidak sesuai dengan standard electoral code FIFA.

Nurdin Halid, Nugraha Besoes - PSSI dalam satu bus bersama Sepp Blatter - FIFA (Dok. GOAL.com)Peraturan Organisasi (PO) yang telah disusun oleh PSSI dan yang diklaim telah mendapatkan persetujuan dari federasi sepakbola dunia (FIFA), ternyata dikabarkan mendapat penolakan dari FIFA.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Hukum Liga Primer Indonesia (LPI) Timbul Thomas Lubis, yang mengungkapkan bahwa FIFA telah menolak PO PSSI karena dalam aturan tersebut ada yang tidak sesuai dengan standard electoral code FIFA.

Thomas mendapatkan pernyataan penolakan dari FIFA tersebut melalui Direktur Pengembangan Asosiasi FIFA, Thierry Regenass. Dengan penolakan tersebut Timbul Thomas berharap PSSI tetap melaksanakan kongres sesuai dengan aturan FIFA yang tidak dipelintir.

Kongres PSSI untuk menentukan anggota Komite Pemilihan dan Komite Banding sendiri akan dilaksanakan malam ini di Pekanbaru, Riau. Apabila penolakan dari FIFA tersebut memang benar maka keabsahan hasil putusan kongres nanti masih bisa menjadi perdebatan.

BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Stefano Lilipaly




Nama lengkap : Stefano Lilipaly
Tempat / tanggal lahir : Arnhem, Belanda / 10 Januari 1990
Tinggi / berat : 170 cm / 60 kg
Orangtua : Ron Lilipaly (ayah) / Adriana Lilipaly (ibu)
Saudara : Shemaine Lilipaly (kakak), Sobay Lilipaly, Nino Lilipaly (adik)
Favorit:
Film : Blow, The Godfather, City Of God
Pemain : Andres Iniesta dan Zinedine Zidane
Musik : Snoop Doggy Dogg, R&B
Mode : Christian Dior, Adidas, Nike
Makanan : Nasi Goreng
Karir:
Posisi : Gelandang serang
Klub 
2000-2001: AZ Alkmaar Junior
2001-sekarang: FC Utrecht
Timnas 
Belanda U-15 sampai U-18
Sejak tahun 2009 dia berhasil mendapatkan tempat di Jong FC Utrecht, tim junior level kedua di bawah tim senior. Di musim pertamanya di Jong FC Utrecht, dia sukses mencetak 8 gol, termasuk satu gol di pertandingan debutnya. Dia berandil besar dalam mengantarkan tim muda FC Utrecht merebut Piala KNVB Junior 2009-10 dengan mencetak 2 gol di pertandingan final melawan Tim Junior De Graafschap yang berakhir dengan kemenangan 4-1 untuk FC Utrecht Junior.[1] Pelatih FC Utrecht Ton Du Chatinier menilai Stefano merupakan kandidat kuat untuk mengisi tim senior.Dia pernah membela Belanda U-15 hingga U-18, namun menyatakan lebih memilih Indonesia untuk level senior.[1] Pada Januari 2011 dia dipanggil Badan Tim Nasional PSSI untuk mengikuti seleksi tim nasional sepak bola Indonesia U-23 yang disiapkan untuk Sea Games 2011 dan kualifikasi Olimpiade 2012, namun akhirnya membatalkan kedatangannya dengan alasan belum pulih sepenuhnya dari cedera.
Pemain favoritnya adalah Andres Iniesta dan gaya permainannya banyak meniru Iniesta. Stefano menyatakan dia dapat bermain defensif dan juga menyerang. Dia juga menyatakan mampu mencetak gol dari luar kotak penalti.
Ayahnya Ron Lilipaly merupakan orang Indonesia, sementara ibunya Adriana adalah warga negara Belanda. Stefano sudah mulai bermain sepak bola sejak umur 7 tahun di klub amatir DCG. Dia sempat pindah ke tim junior AZ Alkmaar sebelum bergabung dengan tim junior FC Utrecht.



BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Joey Suk



Nama : Joey Suk
Tempat, tanggal lahir : Deventer, Belanda, 8 Juli 1989
Tinggi Badan : 185 Cm
Posisi : Defender atau Pemain Tengah
Klub : Go Ahead Eagles
Profesi : Pesepakbola dan Model






Joey Suk yang merupakan gelandang utama tim kasta kedua liga Belanda (Eerste Divisie), Go Ahead Eagles tersebut sebelumnya telah memilih melepas lewarganegaraan Belanda dan sedang dalam proses mendapatkan paspor Indonesia.
“Dia kabarnya lagi diincar Bayern Munchen dan Fenerbahce. Kemungkinan besar dia dibiarkan bermain di Eropa. Saya kira tidak ada masalah dia bermain di mana. Begitu paspornya selesai dia bisa main kapan saja,” ujar Direktur bidang teknis Badn Tim Nasional (BTN), Iman Arif.
Menurut Iman Arif, Joey yang jadi andalan Go Ahead Eagles tersebut akan tetap berada di Belanda sampai jeda transfer bulan Juni nanti. Jadwal padat dan sulitnya memperoleh izin klub tersebut yang membuat BTN hingga kini belum bisa membawa Joey ke Indonesia.
“Dia pemain bagus. Itu juga yang membuat saya meyakinkan coach (Riedl) untuk memberikan kesempatan pada Joey. Saya kira secepatnya dia bisa ke sini. Setidaknya, bersama dua pemain keturunan lainnya dia bisa turun saat ke Tukmenistan nanti,” ujar Iman Arif.

BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Diego MIchiels

Ruben Wuarnabaran (c) Antara

Nama Lengkap : Diego Michiels
Lahir : Deventer, 8 Agustus 1990
Posisi : Gelandang, Defender
Tinggi : 178 cm
Berat Badan : 65 kg
Orang tua : Ayah (Indonesia) dan Ibu (Belanda)
Kakek/ Nenek : Michiels (Indonesia/ Jakarta Utara) dan Aninjola (Timor)
Karir klub :
  • 2009/10 Go Ahead Eagles Deventer (Eerstedivisie) 11 main/ 0 gol
  • 2010/11 Go Ahead Eagles Deventer (Eerstedivisie) 5 main/ 0 gol

Pelatih Riedl ternyata semakin terkesima dengan penampilan Diego Michiels. Namun demikian belum bisa memberi keputusan apakah Diego akan menjadi bagian dari Timnas U-23. Pemain belanda ini sekarang mengikuti latihan di lapangan C, Senayan, Jakarta sekaligus mengikuti seleksi Timnas U-23 yang akan di proyeksikan untuk pra-olimpiade dan Sea games.
Menurut Riedl Pemain “Go Ahead Eagles Deventer” Diego Michiels mempunyai talenta yang bagus dan diatas rata2 pemain lokal, namun Demikian belum teruji kemampuannya tersebut dalam suatu permainan.

BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Kim Kurniawan




Nama Lengkap: Kim Jeffrey Kurniawan
Tempat Lahir: MĂ¼hlacker (sebuah kota kecil dekat Stuttgart)
Tanggal Lahir: 23 Maret 1990
Tinggi Badan: 167 cm
Berat Badan: 60 kg
Nama Ibu Kandung: Uschi Kurniawan
Nama Ayah Kandung: Petrus Kurniawan


Dia adalah Kim Jeffrey Kurniawan, pemain berusia 20 tahun yang saat ini memperkuat FC Heidelsheim, sebuah klub yang berkompetisi di Verbandsliga Nordbaden Jerman (satu level di bawah divisi 3 Bundesliga).Postur tubuhnya tak jauh beda dengan seorang Lionel Messi. Kim memegang paspor Jerman, karena sejak lahir ia terus berdomisili di negeri sang ibunda. Di sana, ia mungkin tak banyak mengenal tentang negara kelahiran ayahnya, terutama tentang sepakbola Indonesia. Maklum saja, Indonesia belum cukup berprestasi di kancah dunia untuk bisa dikenal banyak orang di Barat.

TAHUKAH ANDA?

  • Neneknya Kim berasal dari Bandung, sedangkan kakeknya dari Kudus.
  • Klub favorit Kim adalah FC Barcelona dan Bayern Munich.
    "Di luar negeri, favorit saya adalah FC Barcelona, karena menurut saya, mereka memainkan sepakbola terbaik di seluruh dunia. Saya suka cara mereka bermain, dengan menerapkan umpan-umpan pendek dengan teknik tingkat tinggi. Kemudian klub favorit saya di Jerman adalah Bayern Munich."
  • Pemain favorit Kim adalah Xavi Hernandez, Cesc Fabregas dan Lionel Messi.
    "Mereka semua adalah pemain dengan teknik tinggi, mempunyai visi dan mampu mengendalikan pertandingan. Selain itu, cara mereka mengolah bola dan mengumpan sangat cemerlang, dan mereka juga bagus secara defensif [Xavi dan Fabregas]."
  • Makanan favorit Kim adalah salad dengan campuran dada ayam.
    "Sedangkan makanan favorit saya dari Indonesia adalah bakmi goreng." [tersenyum]
  • Selain sepakbola, Kim sedang mengambil kuliah jurusan bisnis di Pforzheim.
    "Ini akan menghabiskan waktu tiga tahun lagi dan saya akan mendapatkan ijazah. Selain itu, saya senang bergaul dengan teman-teman saya dan juga mencintai musik. Favorit saya adalah musik aliran R&B dan soul."
  • Kim sudah ke Indonesia sebanyak tiga kali (tahun 2001, 2007, dan 2009).
    "Semua saudara dari ayah tinggalnya di Indonesia, jadi kami sering mengunjungi mereka. Selain itu, kami berlibur ke Bali yang menurut saya adalah tempat terindah di dunia. Terdapat beberapa pengalaman penting di sana, karena kehidupan di Jerman sangat berbeda dengan gaya hidup di Indonesia. Semua orang sangat baik dan bersahabat di Indonesia, dan hal seperti ini sangat menyenangkan.
  • Bersama Karlsruher SC, Kim pernah mencicipi gelar Sauerland Cup, sebuah kejuaraan handball di Jerman.

BIODATA LENGKAP PEMAIN TIMNAS : Ruben Warbanaran



Nama Lengkap : Ruben Wuarbanaran
Tempat Tanggal Lahir : Wijhe, 15 August 1990
Status : The fourth child of eight siblings.
Tinggi : 187 cm
Berat : 75 kg
Ayah : Nikodemus Wuarbanaran, from Maluku
Ibu: Greetje, from Netherlands
Position : Defender / Midfielder
Current Club : FC Den Bosch

Pemain asal Belanda ini yang sekarang bermain di tim terkenal Belanda bernama Fc Den Bosch mengikuti seleksi Timnas di lapangan senayan C , dan sekarang Ruben ini telah masuk daftar pemain yang akan memperkuati Timnas Garuda . Pemain ini belum lumayan terkenal di Indonesia karena bakat dan profesinya yang cenderung masih gagap di kancah internasional , tetapi kita lihat saja aksinya Ruben Warbanaran pemain keturunan Indonesia 2012 nanti di Pra Oliempiade

100 Lebih Pemain Sepak Bola luar negeri keturunan indonesia

Ada beberapa pemain sepak bola keturunan Indonesia di luar negeri yang berkiprah di liga-liga Eropa, bahkan beberapa diantaranya menjadi rissing star seperti Raja Nainggolan dan Alessandro Trabuco yang menjadi pemain terbaik di kompetisi junior di Italia, berikut para pemain sepak bola keturunan Indonesia di luar negeri:


Kiper:
1. Donovan Partosoebroto. Pemain berusia 18 tahun ini kini membela tim Ajax junior.

Belakang:
2. Lucien Sahetapy. Pemain dengan posisi bek tengah ini pada awalnya bermain di klub Groningen pada tahun 1993. lalu pindah ke tim Divisi 1 Liga Belanda, BV Veendam.

3. Raphael Tuankotta. Pemain muda berusia 22 tahun ini kini memperkuat BV Veendam Junior.

4. Estefan Pattinasarany. Pemain ini baru berusia 18 tahun dan kini masih memperkuat AZ Alkmaar Junior.

5. Michael Timisela. Pemain ini merupakan pemaian muda berbakat yang dimiliki tim Ajax Amsterdam. Di usianya yang memasuki 20 tahun, pemain kelahiran Paramaribo, Suriname ini telah menembus masuk ke tim utama Ajax.

6. Christian Supusepa. Pemain muda berusia 19 tahun ini, kini memperkuat tim Ajax Junior.

7. Justin Tahapary. Pemain kelahiran 23 Mei 1985 ini sejak tahun 2004 telah memperkuat FC Eindhoven.

8. Marvin Wagimin. Pemain yang baru berusia 18 tahun ini masih memperkuat tim VVV-Venlo di Divisi Satu Liga Belanda.

9. Peta Toisuta. Pemain berdarah Maluku ini kini memperkuat tim Zwolle di liga Belanda.

10. Tobias Waisapy. Pemain berusia 18 tahun ini kini memperkuat tim Feyenord Junior.

11. Jefrey Leiwakabessy. Bek kiri kelahiran Arnhem ini sejak tahun 1998 telah memperkuat NEC Nijmegen. Dan sempat mencicipi timnas junior Belanda.

12. Raymon Soeroredjo. Pemain kelahiran Oss 18 tahun yang lalu ini
kini memperkuat tim Vitesse Junior.

13. Yoram Pesulima. Bek kiri kelahiran 9 Maret 1990 ini kini memperkuat tim Vitesse Junior.

Tengah:
14. Raphael Supusepa. Gelandang kiri yang lahir di kota Wormerveer ini kini memperkuat tim MVV Maastricht. Pemain jebolan Ajax ini sebelum bermain di MVV sempat bermain di tim Excelsior dan Dordrecht.

15. Levi Risamasu. Pemain kelahiran Nieuwerkerk ini pernah memperkuat NAC Breda selama 4 musim sebelum pindah ke tim AGOVV Divisi I Liga Belanda.

16. Marciano Kastoredjo. Gelandang yang juga bisa berperan sebagai bek kiri ini sebelum bergabung bersama tim De Graafschap pernah bergabung bersama tim Utrecht Junior.

17. David Ririhena. Bek ataupun gelandang kiri mampu dijalani oleh pemain yang kini memperkuat TOP Oss di Divisi I Liga Belanda.

18. Joas Siahaija. Gelandang tengah kelahiran Maastricht 22 tahun yang lalu ini kini memperkuat kota kelahirannya, MVV.

19. Irfan Bachdim. Skuad inti tim tim HFC Haarlem.
20. Radja Nainggolan. Bermain di Piacenza Primavera. Pinjaman dari tim Germinal B. di liga Belgia di fm 09 muncul jd rising star

Depan:
21. Ignacio Tuhuteru. Pemain senior berusia 33 tahun ini kini memperkuat Go Ahead Eagles. Sebelumnya pemain jebolan Ajax Junior ini sempat malang melintang di beberapa klub seperti RBC Roosendaal, Dalian Shide China, Sembawang Singapura, Zwolle, Heerenveen, dan FC Groningen.

22. Ferdinand Katipana. Pemain kelahiran Amersfoort 26 tahun silam ini sebelum bergabung bersama Haarlem, sempat bergabung di tim Utrecht Junior dan Cambur Leeuwarden.

yang ga kalah ketinggalan:

1. Radja Nainggolan (sempet pake no.10 di Piacenza serie B italy)
2. Irfan Bachdim (skuad junior FC Utrecht)
3. Irvin Museng (pemain inti di tim junior FC Omniworld, ex ajax, top score danone nation cup) sekarang di pro duta FC, harapan indonesia dimasa akan dtg, asli indo neh kaga blasteran.
4. Peta Toisuta,(main di Zwolle)
5. Gaston Salasiwa,(AZ Alkmaar junior)
6. Jeffrey Flohr, (maen di ADO Den Haag)
7. Noah Chaniago (main di klub Divisi III Prancis Bertram North), Padang asli coy!!!
8. Donovan Partosoebroto (kiper inti Ajax junior)>>mantep neh jd kiper timnas
9. Lucien Sahetapy. (main Divisi1 Liga Belanda, BV Veendam)
10. Raphael Tuankotta. (BV Veendam Junior)
11. Estefan Pattinasarany (AZ Alkmaar Junior) siapainya rony pattinasarni neh??
12. Michael Timisela. (tim utama Ajax) pernah liat maen di ajax...
13. Christian Supusepa. (Ajax Junior)
14. Justin Tahapary. (FC Eindhoven)
15. Marvin Wagimin. (VVV-Venlo junior)
16. Peta Toisuta. (Zwolle di liga Belanda)
17. Tobias Waisapy (Feyenord Junior)
18. Jefrey Leiwakabessy. (NEC Nijmegen/timnas junior belanda)
19. Raymon Soeroredjo. (Vitesse Junior)
20. Yoram Pesulima. (Vitesse Junior)
21. Raphael Supusepa. (MVV Maastricht)
22. Levi Risamasu (NAC Breda selama 4 musim)
23. Marciano Kastoredjo. (De Graafschap)
24. David Ririhena. (TOP Oss di Divisi I Liga Belanda)
25. Joas Siahaija (MVV)
26. Ignacio Tuhuteru. (Go Ahead Eagles) legenda indo di belanda neh!!
27. Ferdinand Katipana. (Haarlem)
28. Bobby Petta (adelaide united)
29. Demy de Zeeuw (Az Alkmaar)
30. Denny Landzaat (Wigan Athletic FC)
31. Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord Rotterdam)
32. Jeffrey de Vischer (Aberdeen FC)
33. Jeffrey Leiwakabessy (Allemania Aachen)
34. Johny Heitinga (Ajax Amsterdam)
35. Michael Mols (Feyenoord Rotterdam)
36. Michael Timisela (VVV Venlo)
37. Quido Lanzaat (FC CSKA Sofia)
38. Robin van Persie (Arsenal FC) yang ini nenek buyutnya org surabaya...
39. Sigourney Bandjar (Excelsior Rotterdam)
40. Phil Adam Cave (ex-Newcastle United Junior)

A (U-19)

1. Stefano Lilipaly (FC Utrecht)
2. Christian Supusepa (Ajax Amsterdam)
3. Tim Hattu (VVV Venlo)
4. Jeffrey Hen (VVV Venlo)
5. Xander Houtkoop (SC Heerenveen)
6. Edinho Pattinama (Nac Breda)
7. Gaston Salasiwa (Az Alkmaar)
8. Giovanni Kasanwirjo (Ajax Amsterdam)
9. Raymond Soeroredjo (Vitesse/agovv)
10. Tobias Waisapy (Feyenoord Rotterdam)
11. Jordao Pattinama (Feyenoord Rotterdam)
12. Abel Tamata (PSV Eindhoven)
13. Yael Heatubun (FOrtuna Sittard)
14. Django Ngutra (GA Eagles Deventer)
15. Richie Pairun (Cambuur Leeuwarden)
16. Ruben Wuarbanaran (FC Den Bosch)
17. Daniel Salakory (FC Den Bosch)
18. Govanni Wilikin (Top Oss)


B (U-17)

1. Anice Waisapy (VVV Venlo)
2. Cayfano Latupeirissa (Nec Nijmegen)
3. Estefan Pattinasarany (Az Alkmaar)
4. Joey Latumalea (FC groningen)
5. Yoram Pesulima = vitesse/agovv
6. Marciano Leuwol = vitesse/agovv
7. Stevie Hattu = vvv venlo
8. Sonny Luhukay = vvv venlo
9. Masaro Latuheru = feyenoord rotterdam
10. Ferd Pasaribu = fortuna sittard
11. Jair Behoekoe Nam Radja = rkc waalwijk
12. Marinco Hiariej = bv veendam
13. Graham Bond = fc omniworld


C (U-15)

1. Brandon Leiwakabessy = nec nijmegen
2. Jordi Tatuarima = nec nijmegen
3. Levi Raja Boean = nec nijmegen
4. Rychto Lawalata = nec nijmegen
5. Benjamin Roemeon = vitesse/agovv
6. Delano Haulussy = GA eagles deventer
7. Ricarco Malaihollo = GA eagles deventer
8. Jordi Rakiman = cambuur leeuwarden
9. Kevin Pairun = cambuur leeuwarden


D - E

1. Silgio Thenu = feyenoord rotterdam D1 BVO (U-13)
2. Niaz de Coninck = feyenoord rotterdam D1 BVO (U-13)
3. Tom Titarsolej = psv eindhoven D3 (U-11)
4. Jamarro Diks = vitesse/agovv D1 (U-13)
5. Kevin Diks = vitesse/agovv D2 (U-12)
6. Jerah Hukom = Vitesse/agovv D2 (U-12)
7. Shayne Pattynama = ajax amsterdam E3 (U-10)
8. Nathan Haurissa = fc den bosch D2 (U-12)
9. Sereno Latuhihin = fc den bosch D3 (U-11)


sedangkan nama-nama seperti Donovan Partosoebroto sekarang menjadi asisten pelatih U-13 klub amatir HOOFDDORP, Raphael Tuankotta main di klub amatir vv Holwierde, Marvin Wagimin (klub amatir Venlosche Boys A1), Petu Toisuta (klub amatir WSV Apeldoorn), Marciano Kastoredjo (klub amatir Haaglandia Rijswijk ZH), Ignacio Tuhuteru (klub amatir ROHDA Raalte), dan Raphael Supusepa sudah mengundurkan diri dari MVV alasan keluarga.

Alessandro Trabuco pemain seri-B italy, lahir di Bali (ibunya orang bali) umur 5 tahun dbawa ayahnya ke Italy ia sering jadi pemain terbaik d kompetisi junior..

Valid tidaknya data tersebut di atas perlu adanya investigasi kedubes Indonesia yang ada diluar negeri apakah benar-benar di keturunan Indonesia, tapi kalau dilihat dari nama-namanya ada kaitannya dengan marga-marga yang ada di Indonesia

Rabu, 23 Maret 2011

AC MILAN

Kantor pusat pertama didirikan di 'Fiaschetteria Toscana' di Via Berchet di Milan, pada 1899. Sejak saat itu sejarah Milan yang sarat kejayaan terlahir karena klub itu terus mencatatkan namanya dalam buku rekor sepakbola sebagai salah satu tim yang paling terkenal dan paling sukses di dunia terutama dalam 15 tahun terakhir.

Sejarah Rossoneri bertaburan dengan nama-nama legendaris yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan klub, apakah itu para presiden, pelatih atau pemain. Presiden pertama adalah seorang expatriate asal Inggris, Alfred Edwards, yang menyaksikan klub itu meraih gelar pertamanya – hanya dua bulan setalh didirikan. Presiden dengan kesuksesan terbanyak adalah Silvio Berlusconi yng telah membawa Milan ke puncak dunia sejak berkuasa pada 1986.
Sebuah tim besar membutuhhkan seorang pelatih besar pula dan Milan jelas pernah ditangani oleh sejumlah bakat besar. Sosok-sosok seperti Gipo Viani, Nereo Rocco dan Nils Liedholm adalah para jagoan di era awal dan mereka diikuti oleh Arrigo Sacchi dan Fabio Capello yang membawa taktik dan strategi tim ke level baru yang banyak disebut-sebut sebagai pendekatan modern terhadap sepakbola. Seiring dengan itu, masing-masing dari mereka juga memastikan timnya memainkan sepakbola spektakuler.
Kejayaan di era Berlusconi diawali oleh Sacchi dan diikuti oleh Capello yang memenangi banyak trofi. Sacchi memenangi Piala Eropa secara beruntun bersama sebuah tim yang dianggap sebagai salah satu tim terhebat sepanjang sejarah, juga merebut gelar Serie A title, dua Piala Interkontinental dan Piala Super Eropa. Capello meneruskan itu dengan empat gelar liga, satu Piala Eropa dan satu Piala Super Eropa. Alberto Zaccheroni mempertahankan tradisi hebat itu dengan membawa timnya merebut gelar liga di tahun pertamanya sebelum Fatih Terim mengambil alilh untuk waktu yang singkat dan kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada Carlo Ancelotti yang kepiawaian manajemennya telah membawa Milan kembali ke puncak di Italia dan Eropa.

1899/1929

Pada 16 Desember 1899 Klub Sepakbola dan Kriket Milan secara resmi didirikan, tapi kali pertama nama Milan muncul di muka umum adalah pada hari Senin, 18 Desember dalam sebuah artikel di harian Gazzetta dello Sport newspaper. Kantor pusat pertama awalnya ada di Fiaschetteria Toscana di Via Berchet di Milan dan Presiden Alfred Ormonde Edwards mendaftarkan tim ini ke Federasi Sepakbola Italia pada Januari.
Tim ini hanya memainkan satu pertandingan dalam musim pertamanya, melawan Torino, dan meski kalah, Milan mengangkat trofi pertamany, 'Medali Raja’, yang diberikan oleh Raja Umberto I.
Pada 1900/01, Milan memenangi gelar nasional pertamanya dan Medali Raja yang kedua, dan mereka kembali memenanginya di musim berikutnya. Selama bertahun-tahun tim Kiplin meraih sukses besar dan Milan menjadi tim paling populer di wilayah Lombardy, memenangi 'Palla Dapples' yang bergengsi selama tiga musim beruntun (1904/05 - 1905/06 - 1906/07).
Pemain top saat itu adalah Louis Van Hege, seorang pencetak gol hebat dengan rata-rata luar biasa 1,1 gol per laga. Pada musim 1914/15, kejuaraan dihentikan sebelum akhir tahun lantaran pecahnya Perang Dunia I, dan baru dimulai kembali pada 1919. Setelah beberpa perubahan dalam struktur pengurus, Pietro Pirelli diangkat sebagai Presiden baru. Ia menduduki jabatan itu selama hampir 20 tahun, dan di eranya Stadion San Siro Stadium diresmikan.

1929/1949

Era 1920-an adalah periode konsolidasi buat Rossoneri di mana tim ini tak membuat gebrakan besar di lapangan.
Klub ini mengubah namanya dari Milan F.C. menjadi Milan Associazione Sportiva, dan menyusul sejumlah perubahan di level atas kepengurusan, Umberto Trabattoni menjadi presiden pada 1940. Itu adalah posisi yang didudukinya hingga 1954. Tim ini melewati periode naik dan turun, tapi biasanya mengakhir musim di papan tengah dan jarang finis di posisi empat teratas.
Perang Dunia II membuat sepakbola terhenti hingga musim 1946-47 ketika kejuaraan kembali digelar di mana setiap tim hanya sekali saling berhadapan. Milan berhasil finis di posisi keempat di bawah raksasa Torino, Juventus dan Modena. Dalam dua musim berikutnya ada sesuatu seperti momen kelahiran kembali di mana tim ini finis di tempat kedua dan ketiga, dengan Torino sebagai juara dalam kedua kesempatan itu.

1949/1955

Kehadiran Gunnar Nordhal menandai awal era baru buat tim Rossoneri yang sudah terlalu lama dianggap sebagai pelengkap dalam urusan gelar liga. Selain Nordhal, yang menjadi top skorer liga dengan 35 gol di musim 1949/50, dua pemain Swedia lainnya bergabung ke tim: Nils Liedholm dan Gunnar Gren. Ketiganya, bersama dengan kiper Lorenzo Buffon, merupakan penambahan kekuatan yang dibutuhkan tim ini.
Milan memenangi gelar keempat di musim 1950/51 dan melengkapi tahun bersejarah itu dengan merebut Piala Latin.
Sukses terus berdatangan dan Nordahl merupakan top skorer liga untuk tiga musim beruntun, 1952/53, 1953/54 dan 1954/55. Dalam musim terakhirnya, sang kapten mengantar Rossoneri meraih gelar liga satu lagi.
Pada 1954, Juan Alberto Schiaffino, yang dijuluki "Pepe", dibeli dari Penarol dan menjadi salah satu pemain top dalam tim ini selama beberapa tahun ke depan.

1955/1960

Musim 1955/56 menjadi saksi keikutsertaan Milan dalam edisi pertama Piala Champions di mana mereka kalah dari tim yang kemudian jadi juara, Real Madrid, di semifinal, tapi mereka berhasil merebut Piala Latin untuk kali kedua saat mereka menang 3-1 atas Athletic Bilbao di final.
Dengan kehadiran pelatih baru Gipo Viani yang menangani tim ini, Milan memenangi gelar liga di musim 1956/57, tapi kejutan sesungguhnya musim itu adalah striker Gastone Bean, yang mencetak 17 gol. Setahun kemudian, tim itu menjadi lebih kompetitif ketika Jose Altafini bergabung dalam tim: pemain Brasil itu merebut hati para fans dengan skill dan keceppatannya bersama-sama kapten "tua" Liedholm, Cesare Maldini dan "Pepe" Schiaffino, playmaker tak terlupakan di lini tengah, Milan memenangi gelar di akhir persaingan seru dengan Fiorentina.
Schiaffino, salah satu dari beberapa pemain yang pantas mendapat gelar juara sejati, memainkan musim terakhirnya di tim Milan yang gagal bersinar dalam kejuaraan, tapi setidaknya Rossoneri berhasil mengatasi rival sekota, Inter, 5-3 dalam derby musim semi, di mana Altafini mencetak 4 gol.

1960/1970

Jika tahun-tahun sebelumnya ditandai oleh para pemain asing (Gre-No-Li, Schiaffino-Altafini) menjadi andalan, antara 1960 dan 1970, para pemain Italia tak hanya mengambil alih posisi sebagai aktor utama dalam sejarah klub ini, tapi juga menonjol di pentas dunia dan mengukir nama di level internasional. Dari tim Olimpiade 1960 Roma datang pemain-pemain seperti Trapattoni, Trebbi, Alfieri dan Noletti bersama dengan seorang anak muda bernama Gianni Rivera yang memainkan laga pertamanya untuk klub ini saat usianya baru 17, melawan Alessandria, bekas timnya, dalam sebuah kemenangan 5-3 buat Milan. Musim itu Rossoneri berada dalam pacuan gelar hingga akhir, tapi dua kekalahan dalam dua laga terakhir, lawan Bari dan Fiorentina, membuat mereka hanya menjadi runner-up.
Saat Nils Liedholm pergi, 'ParĂ²n' Nereo Rocco datang sebagai pelatih baru untuk memunculkan sebuah era baru, ditandai dengan sukses di dalam dan luar negeri. Trofi pertama adalah gelar liga di musim the 1961-62, tapi sukses yang paling menyenangkan dan tak terlupakan adalah merebut Piala Eropa untuk kali pertama. Dalam final melawan Benfica, dimainkan di Satdion Wembley pada 22 Mei 1963, merupakan laga yang seru: Milan menganggkat piala setelah mengalahkan tim Portugal itu 2-1 (Altafini menyumbang 2 gol buat Milan dan Eusebio mencetak gol buat Benfica). Foto kapten Cesare Maldini mengangkat piala bersama Nereo Rocco masih terbayang dalam memori semua suporter Rossoneri.
Milan gagal mengulang sukses itu di Piala Interkontinental Cup, di mana Milan kalah 0-1 dari Santos dalam laga penentuan di Stadion Maracana. Di akhir musim, presiden Andrea Rizzoli meninggalkan klub setelah sembilan tahun bergelimang sukses besar termasuk empat gelar liga, satu Piala Latin dan Piala Eropa yang bergengsi. Ia dikenang tak hanya atas prestasi olahraganya, tapi juga karena membangun pusat latihan centre of Milanello yang kemudian menjadi aset penting selama bertahun-tahun.
Setelah beberapa musim yang mengecewakan di mana tim ini bermain jauh di bawah potensi mereka, Milan kembali ke puncak klasemen di musim 1967-68, memenangi gelar liga kesembilan dan prestise klub makin melambung dengan sukses di Piala Winners Eropa, yang pertama dalam sejarah Milan. Menjadi juara liga membawa Milan kembali ke Piala Eropa di musim berikutnya dan pasangan Rivera-Prati bergaya di final di Stadion Bernabeu di mana mereka mengalahkan tim Belanda, Ajax, yang diperkuat Johan Cruijff muda, 4-1. Kiper Milan, Fabio Cudicini, mendapat julukan 'Laba Laba Hitam’ menyusul aksinya mencegah Manchester United mencetak gol di semifinal. Milan juga akhirnya menjadi Juara Dunia setelah menang 3-0 di San Siro yang diikuti dengan kekalahan 2-0 di Stadion Bombonera di Buenos Aires melawan Estudiantes. Kelas dan gaya Gianni Rivera membuat playmaker itu meraih Bola Emas sebagai Pemain Terbaik Eropa 1969, dan mendapat tribut indah ini: 'dalam dunia sepakbola yang gersang, Rivera satu-satunya yang memliki rasa puitis.'

1970/1985

Salah satu periode paling gelap dalam sejarah Milan di mana klub ini tak bisa banyak berpesta. Satu-satunya titik terang datang saat tim ini dianugerahi kehormatan untuk memakai 'Bintang' di kostum mereka setelah memenangi gelar liga ke-10, pada 1979. Tim ini juga tiga kali merebut Piala Italia serta satu Piala Winners Eropa.
Juara Italia ini dilatih oleh Nils Liedholm, yang memberikan debut kepada seorang pemain muda yang kemudian bakal menjadi kapten dan salah satu bek terbaik di dunia: Franco Baresi. Franco yang hebat ini bermain dalam laga kompetitif pertamanya buat Milan pada 23 April 1978 dalam kemenangan 2-1 atas Verona.
Tahun-tahun ini juga diwarnai datang dan perginya banyak pelatih dan pengunduran diri gelandang legendaris Gianni Rivera yang diangkat menjadi wakil presiden klub.
Delapan tahun pertama dari 1980-an menjadi saksi turunnya standar yang sebelumnya sangat tinggi di mana tim ini bermain selama dua musim di Serie B. Meski begitu, tak semuanya merupkan kabar buruk karena Paolo Maldini naik ke pentas sepakbola saat ia membuat debutnya pada 20 Januari 1985 dalam sebuah hasil imbang 1-1 lawan Udinese. Paolo, tentu saja, kemudian mengikutin jejak Baresi dan menjadi kapten tim ini meraih sukses di dalam dan luar negeri.

1985/2007

Setelah meraih sukses di musim-musim sebelumnya, Nils Liedholm diangkat kembali menjadi pelatih. Meski begitu, hasil-hasil yang diraih tak meningkat baik di liga atau di kompetisi piala. Klub ini sudah sampai pada masa di mana dibutuhkan perombakan besar-besaran dan pada 24 Maret 1986, Silvio Berlusconi diangkat sebagai presiden Milan ke-21.
Presiden baru ini memutuskan untuk secara radikal memperkuat tim dan mengambil keputusan untuk turun ke pasar transfer. Pada musim 1986/78, para pemain seperti Roberto Donadoni, Dario Bonetti, Giuseppe Galderisi, Daniele Massaro dan Giovanni Galli direkrut untk digabungkan dengan bintang Inggris Mark Hateley dan Ray Wilkins. Butuh waktu bagi para pemain baru ini untuk beradaptasi, tapi Milan berhasil lolos ke Piala UEFA berkat kemenangan atas Sampdoria dalam play-off di mana Massaro mencetak satu-satunya gol dalam laga itu di perpanjangan waktu.
Musim 1978/89 adalah saat kehadiran Arrigo Sacchi. Pelatih baru ini merupakan tokoh zonal marking, total football, beserta tekanan dan kecepatan terhadap lawan saat mereka menguasai bola. Bersama dengan kehadiran bintang-bintang Belanda Marco Van Basten dan Ruud Gullit, tim ini kemudian memasuki era baru dan mengasyikkan yang kemudian mengubah sepakbola tak hanya di Italia, tapi juga di dunia. Pemain tim yunior Alessandro Costacurta juga dipromosikan ke tim inti dan Milan berhasil mengubah musim itu menjadi salah satu momen luar biasa. Terlepas dari sanksi di luar lapangan, termasuk dinyatakan kalah 0-2 dari Roma berdasarkan keputusan pengadilan olahraga, tim ini berjuang bangkit dan bersaing dengan Napolinya Diego Maradona di puncak klasemen. Sebuah kemenangan 3-2 atas Napoli di stadion San Paolo pada 18 Mei 1988 memberikan Milan gelar liga ke-11 dan yang pertama di era Berlusconi.
Duet Belanda Gullit dan Van Basten diikuti rekan senegaranya, Frank Rijkaard, untuk membentuk satu trio baru dari satu negara yang sama mirip dengan Gunnar Nordhal, Nils Liedholm dan Gunnar Gren - 'Gre-No-Li' – di tahun 1950-an. Dari situ sukses demi sukses diraih. Di musim 1988/89, Milan menguasai Eropa, merebut Piala Champions setelah menekuk Vitocha, Red Star Belgrade, Werder Bremen dan kemudian Real Madrid di semifinal untuk mencapai final lawan Steaua Bucarest. Lebih dari 100.000 penonton memadati stadion Nou Camp di Barcelona untuk menyaksikan Milan menang telak 4-0. Di bawah asuhan Sacchi, tim ini memenangi satu gelar liga, dua Piala Champions, dua Piala Interkontinental, dua Piala Super Eropa dan satu Piala Italia.
Mantan gelandang Milan Fabio Capello menggantikan Sacchi di awal musim musim 1992/93 tapi tim ini terus mendominasi di dalam dan luar negeri, memenangi empat gelar liga (tiga secara beruntun), tiga Piala Super Italia, satu Piala Champions (dimenangi dengan kemenangan tak terlupakan di final lawan tim favorit Barcelona) dan satu Piala Super Eropa.
Periode antara 1986 dan 1996 tak diragukan lagi merupakan periode paling subur, tak hanya berdasarkan jumlah trofi yang dimenangi, tapi juga dari segi penampilan bermutu tinggi dan permainan mengasyikkan. "Yang Abadi " dan "Yang Tak Terkalahkan ", julukan mereka, membawa sepakbola ke level baru, tapi di akhir 90-an tak sepositif awal dekade itu. Klub ini berganti-ganti pelatih (Tabarez, kemudian Sacchi dan Capello lagi) tapi dengan kehadiran Alberto Zaccheroni pada 1999, Milan memenangi gelar liga yang ke-16 di musim yang bersamaan dengan perayaan hari jadi klub yang seabad.
The period between 1986 and 1996 was without a doubt the most prolific period, not only in terms of the number of trophies won, but in the excellent performances and exciting style of play. "The Immortals" and "The Invincibles", as they were known, took the game to new heights but the late '90s were not as positive as the beginning of the decade had been. The club alternated between a succession of coaches (Tabarez, then Sacchi and Capello again) but with the arrival of Alberto Zaccheroni in 1999, Milan won its 16th league title in the same season as the club's centenary celebrations.
Sejarah Milan berikutnya membawa kita ke periode sekarang di mana Carlo Ancelotti mengambil alih posisi pelatih dari Fatih Terim, dan bertepatan dengan sukses tim ini memenangi Liga Champions 2003 ketika mereka mengalahkan rival sesama Italia, Juventus di final. Milan juga merebut Piala Italia dan Piala Super Eropa di tahun yang sama.
Gelar liga kembali ke kantor pusat klub di Via Turati di akhir musim 2003/04 yang merupakan gelar ke-17 dan tim ini memulai musim berikutnya dengan memenangi Piala Super Italia pada 21 Agustus. Meski begitu, musim 2004/05 kemudian meninggalkan rasa pahit di mulut, dan terlepas dari sejumlah penampilan hebat, tim ini gagal menyamai prestasi musim sebelumnya. Sebaliknya, musim 2006/2007 merupakan salah satu kerja istimewa dalam segi perjuangan, keberanian dan sukses. Milan diberi peluang sempit menyusul hukuman yang dijatuhkan hakim olahraga di awal musim, tapi para pemain dan staf pelatih ‘menyingsingkan lengan baju mereka’ untuk membalikkan keadaan dengan cara yang mengangumkan. Para pemain dipanggil lebih awal dari liburan musim panas mereka, dengan beberapa di antara mereka baru saja memenangi Piala Dunia. Skuad ini berkumpul di Milanello, bersatu dan penuh determinasi, dan mereka lolos ke fase grup Liga Champions berkat kemenangan dalam pertarungan dua leg melawan Red Star Belgrade di babak kualifikasi. Milan juga membuat awal baik di liga, tapi harus membayar mahal atas minimnya persiapan seiring dengan waktu yang semakin menguras tenaga. Meski begitu, sejumlah latihan di udara hangat di Malta saat liburan musim dingin merevitalisasi tim. Para pemain Carlo Ancelotti dalam perfroma luar biasa memasuki fase terakhir musim itu hingga mereka mencapai target 4 Besar di liga dan Liga Champions. Dengan diamankannya posisi keempat, final di Athena mempertegas kekuatan karakter tim ini karena mereka berhasil mengatasi ketidakadilan, dengki dan ktidakberuntungan yang harus mereka jalani.
Salah satu trofi terakhir yang ditaklukkan adalah Piala Super Eropa yang dimenangi pada 31 Agustus 2007 di Montecarlo dalam final melawan Sevilla, pemegang Piala UEFA, sebuah pertandingannyang dimainkan tanpa antusiasme lantaran tewasnya pemain klub Andalusia itu, Antonio Puerta. Meski begitu, ada tugas penting satu lagi yang dijadwalkan buat Rossoneri di musim 2007/2008: perjalanan berat ke Jepang untuk memenangi Piala Dunia Klub FIFA, trofi interkontinental paling bergengsi yang bisa didambakan sebuah klub. Milan terbang dari Italia ke Yokohama siap untuk menghadapi tantangan ini dengan satu tambahan motivasi: memenangi trofi ini akan menjadikan Milan sebagai klub paling sukses di dunia dengan jumlah trofi internasional terbanyak yang pernah dikoleksi dan karenanya, mengalahkan klub Argentina Boca Juniors. Setelah memenangi semifinal lawan Urawa Red Diamonds, tim Ancelotti mulai berkonsentrasi dan penuh tekad untuk laga final lawan Boca. “Derby Dunia ” ini pun digelar: penampilan Rossoneri terbilang sempurna, spektakuler dan hasil akhir, 4-2 buat mereka, menobatkan Milan sebagai klub paling sukses di dunia. Kota Milan dan seluruh fans Milan bersama para pemain merayakan target prestisius yang tercapai berkat kekuatan dari sebuah kelompok fantastis yang mampu memberikan momen-momen yang sangat istimewa.

Dalam beberapa tahun terakhir Rossoneri, yang empat kali lolos ke semifinal kompetisi utama Eropa dalam lima tahun, telah mengukuhkan mereka sebagai pemain kunci dalam skenario nasional dan internasional, dan siap untuk meraih prestasi baru dengan dukungan antusiasme banyak fans di Italia dan luar negeri dan dengan lebih dari seratus tahun tradisi dari emosi dan kesuksesan.